Selasa, 10 November 2009
Baby Sitter
seorang mbak2 yg berpakaian putih seperti perawat,
sdg menggendong anak..punya ijazah/sertifikat.
mgkin image itu skrg berubah
msh byk dari kalangan masyarakat
berprofesi "baby sitter" tanpa sekolah, tanpa ijazah
tapi kualitas bs sebanding bahkan lebih berpengalaman
dlm hal perawatan bayi..jauh lebih menyayangi, perhatian,
tanggung jawab. tapi akhir2 skrg profesi ini sulit ditemukan??
apa krn sebuah gengsi? prestise? atau mengadu nasib ke ibu kota?
yg lebih menjanjikan insentif lebih...
berijazah/tdk, sekolah/tdk, tua/muda profesi ini menjadi langka
padahal diwaktu pagi-sore org tua sang baby bekerja, menjadi
suatu kebutuhan yg sangat mendesak.
kita butuh peran serta "baby sitter" dirumah..
Ya Alloh mudahkan dalam pencarian ini..
semoga segera dapet pengganti..
1 bulan waktu yg pendek..
Senin, 09 November 2009
Istikomah kah diriku???
semakin hari kunikmati profesi ini
walaupun terkadang kejenuhan muncul
sebab apa? rutinitas? niat gak tulus?
bosen? bete? relasi yg kgr co2k?
apa ini pentingnya arti istikomah?
betapa beratnya menjalankan itu..
pantes Alloh & RosulNya seneng liat umatnya
yg punya sikap "itu"...
aktivitas gak hrs muluk2 & sok2an..
ketika msh hangat, semangat !!
ketika dingin? lemah lagi...
amal ibadah yg berkualitas adalah
SEDIKIT TAPI ISTIKOMAH
Pokoke wae..
Apa sebenarnya yang tak bisa dipetik oleh orang-orang yang setiap hari menyaksikan banyak kejadian dalam hidup dan kehidupannya? Setiap hari kita dijejali dengan berbagai kisah kehidupan, ntah itu sedih ataupun senang. Setiap hari juga kita menonton tayangan kehidupan antar manusia, ntah hina ataupun bersahaja. Setiap hari yang terdiri dari rajutan waktu, yang kita bongkar lembar demi lembar untuk mengurai problematika yang ada. Mungkin bukan karena tak ada bisa dipetik dari rentetan kejadian itu, tapi jangan-jangan karena kita enggan untuk memetiknya, sehingga hikmah hilang begitu saja, melangkah jauh, hilang tak berbekas…
Ada bangsa kera, yang terkenal dengan kedunguan dan kelicikannya, pernah hidup di bumi ini. Tidak tanggung-tanggung, seorang Musa, seorang Yusuf dan seorang Isa pun pernah diutus untuk memperbaiki tingkah polah kehidupan mereka, sayang sikapnya tak berubah, malah makin menambah-nambah. Sayang sekali, mukjizat di balas dengan kedunguan hati yang hitam pekat. Perintah untuk memasuki Bumi Suci yang dijanjikan mereka tolak dengan dengan hati pengecut meminta dispensasi, “Ya Musa, engkau berperang berdua saja dengan Tuhanmu”. Padahal sesaat sebelum itu, bangsa kera itu telah menyaksikan bagaimana Laut Merah terbelah dan Fir’aun tenggelam di dalamnya. Maka apa lagi yang mereka ragukan? Bahwa bersama Musa dan Tuhannya, mereka akan hidup makmur penuh kedamaian berdiam di Bumi Suci yang dijanjikan. Ah, andai mereka berfikir, mereka tidak perlu dihukum tersesat selama 40 tahun di Padang Tih.
Belakangan ini kita juga disuguhkan berita tentang ulah anggota DPR (Dewan Perwakilan Rakyat) RI yang melakukan tindak asusila terhadap sekretarisnya. Terlepas dari mencuatnya berita tersebut adalah karena alasan politis atau tidak, tapi nyatanya kita disuguhkan drama percintaan yang salah alamat. Cinta, mungkin itu adalah ungkapan kesenangan di dalam hati, gairah ketertarikan yang terekam oleh mata dan gelora kenikmatan yang berdiam di sanubari. Tidak ada yang salah dengan cinta. Mencintai dan dicintai itu tidak salah, tapi harus tetap dalam koridor yang sah. Ah, tidak tahukah mereka, jika di gedung dewan yang terhormat saja terjadi skandal seperti itu, apalagi di pinggir-pinggir perumahan kumuh rakyatnya. maka jangan terlalu heran, dipinggiran negeri ini, telah menjamur warung “remang-remang”, lengkap dengan mucikari, wanita penghibur, dan lelaki hidung belangnya. Sudahlah, jangan lanjutkan pembahasan ini sampai ke kota-kota besar, bisa makin pilu hati ini….
Ntah lah, ada begitu banyak kejadian dalam hidup ini, seharusnya ada beribu hikmah yang bisa dipetik, lalu disebar sebagai bibit kearifan, hingga akhirnya mampu menumbuhkan berjuta pohon kebaikan. Kalau tidak ada hikmah yang bisa dipetik, mungkin selama ini kita hanya melihat kejadian berdasarkan fenomena. Sudah saatnya kita kita ubah cara pandang kita, jangan lihat hidup dari fenomena, lihatlah dari hakikat. Jika masih belum berhasil juga, mungkin hati kita yang telah gersang, kekeringan menunggu mati. Jangan sampai itu berlarut-larut, berdoalah. Ya, ketika ramainya pesan hidup tak jua melahirkan kearifan, maka berdoalah…. Ya Tuhan kami, bukakan pintu hati kami…
Minggu, 08 November 2009
Coretan di dinding
jangan ajarkan kebohongan & kemunafikan...
